Dambaan Kemerdekaan Kedua

(foto : Herman Damar Photography)

Di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur, puluhan tahun silam, didahului dengan kesusahan dan semangat membara selama tahun-tahun perjuangan, kerja bersama mereka semua melahirkan suatu hal yang niscaya adalah hal terindah bagi sebuah negara yang sedang berjuang: kemerdekaan. Doa murni dan tumpah darah yang terkompilasi, memang tidak akan pernah sia-sia. Wajah berseri dengan peluh keringat, mereka lelah, namun sangat bahagia dan bangga telah mengusir kolonialisme yang mengakar di negeri ini.

Kini usianya telah menjejaki tujuh puluh dua tahun masa kemerdekaan. Seperti halnya orang, tanah air kita ini juga berubah seiring jalan. Beragam orang telah hilir mudik menjelajahi bumi pertiwi. Migrasi, migrasi, dan migrasi. Bercocok tanam di sana, berbisnis di sini, buka lahan di situ. Tentunya tanah kita ini sudah berubah sekarang dibandingkan saat pertama ia lahir. Bukan hanya dari segi fisik, tetapi juga modernitas dan cara berpikir para warga yang menetap. Poin kedua ini justru yang adalah merupakan kunci penting bagi sebuah negara agar bisa maju dan sukses.

Negeri ini dibangun atas dasar semangat dari lubuk hati para pahlawan di masa lampau. Pahlawan, sebuah kata yang konotasinya merujuk pada orang di masa lalu yang melakukan sebuah hal besar dalam sejarah, namun sesungguhnya kita pun bisa menjadi pahlawan bangsa dan bisa membawa “kemerdekaan” kedua, di mana kita semua menyatu kembali sebagai satu kesatuan.

Konflik silih bergulir berganti, aral melintang, menimbulkan banyak pecah belah retak sana sini dalam kesatuan yang tergabung dalam Pancasila kita. Hal ini sudah tak ayal menjadi rahasia umum dan berada di benak setiap orang. Seolah bahwa kemerdekaan itu hanyalah total terlepas dari para koloni, kemudian setelah itu tidak ada lagi. Bahkan hal ini mirisnya sering juga terdengar dalam survey yang lazim dilakukan, dengan satu pertanyaannya yang sederhana saja: “Menurut kamu, apakah kita sudah merdeka?” Coba hitung lebih banyak yang menjawab iya secara sepenuhnya ataukah sebaliknya. Lalu ungkapan itu biasanya disertai dengan rentetan unek-unek dari sang narasumber.

Namun tentunya kemerdekaan sendiri tidak akan muncul bila kita hanya bersungut-sungut dan protes terhadap pemerintah. Kritik memang diperlukan agar pemerintahan sendiri tahu ada sebuah sistem yang tidak sesuai harapan rakyat, namun tentunya harus disampaikan dengan baik. Di lain itu, kita harus sadar juga, kita tidak bisa merubah pemerintahan secepat itu. Tetapi ada satu hal yang banyak terlewat di benak orang lain akan perubahan, bahwa orang itu bisa mengubah dirinya sendiri, bahkan lebih mudah dibanding menuntut orang lain untuk berubah.

Ketika kita berusaha mengubah diri kita sendiri, sudah sepatutnya juga kita berbaur dalam masyarakat sebagai seorang warga. Kalau dalam bidang sains, maka kita akan berkumpul menjadi sebuah komunitas, yang jelas tentunya menjadi lebih kuat dan berdaya dibanding saat kita hanya menyendiri sebagai seorang individu. Maka dengan itu, kita bisa membangun negeri ini dengan lebih mudah bila kita semua bekerja secara simultan.

Kerja bersama merupakan tonggak awal kelahiran bangsa ini, yang sepatutnya juga menjadi cerminan kehidupan kita sehari-hari. Kerjasama ataupun gotong royong ini sungguh penting, bahkan tercantum dalam Pancasila kita yang keempat. Maka dari itu, kerja bersama sudah seharusnya merupakan salah satu idealisme kita dalam mewujudkan cita-cita luhur bangsa ini. Mewujudkan fondasi awal gotong royong ini mudah saja, bahkan bisa diawali dengan hal-hal sederhana dan dapat kita lakukan sehari-hari, seperti membantu sesama ataupun kerja bakti. Tidak terdengar asing bukan? Kata-kata ini ada di setiap buku pelajaran SD, menandakan bahwa kita sudah lama dididik untuk memikul bersama Indonesia menuju sebuah negara yang maju namun tetap normatis.

Kita tetap harus berusaha. Tantangan kita sebagai warga Indonesia semakin hari semakin banyak. Seperti halnya divide et impera yang dilangsungkan di zaman dahulu sebagai serangan kepada kita semua untuk berpecah, dengan masuknya era globalisasi yang tak terkendali, pun bisa menimbulkan permasalahan baru di antara kita para anak bangsa.

Saya merasa beruntung mengetahui adanya sebuah kontes dari PARA Syndicate, yakni sebuah organisasi yang bertujuan untuk memastikan proses demokrasi di Indonesia berjalan dengan baik dan memang sepatutnya. Di sini saya bisa menyampaikan aspirasi saya sebagai seorang warga Indonesia akan hal ini di antara intoleransi dan penyelewengan yang secara fakta terjadi di Indonesia, dalam media sosial.

Bolehlah kita sadar diri sebagai warga Indonesia yang cerdas, untuk memilah globalisasi yang masuk dengan kearifan lokal. Suka dan update teknologi itu sangat boleh, tetapi gila teknologi sebaiknya jangan. Apalagi, dewasa ini kita banyak menemukan fitnah-fitnah tak senonoh yang mengatas namakan hal-hal sensitif berseliweran sebegitu bebasnya di internet, bukan tidak mungkin hal ini kelak memecah bangsa kita dan membuat kita semakin terpuruk. Kita sebagai warga Indonesia sudah sepatutnya tidak termakan isu-isu picisan seperti hal itu. Daripada menyebarkannya, baik kiranya kita mengabaikan dan meniadakan konten itu di internet dengan berbagai macam cara yang sudah tersedia.

Di tengah zaman yang teknologinya semakin maju ini, tak bisa dipungkiri lagi bahwa individualis menjadi sebuah sikap yang lazim di masyarakat. Bahkan tetangga pun sudah sering tak mengenal. Individualis, tentunya bukanlah sebuah sikap yang bisa membawa kita bersama menuju “kemerdekaan” kedua. Bahkan beberapa ada yang justru jatuh dalam kelompok gelap yang kian memecah bangsa ini. Kita tahu akan hal itu, kita tahu bahwa kita harus bersosialisasi dan mengamalkan Pancasila keempat ini di kehidupan sehari-hari. Namun nyatanya, setiap hari wajib sekali membawa yang namanya ponsel itu ke mana-mana, hingga rasanya ponsel sudah seperti udara yang sehari-harinya harus kita hirup saja. Mari kita semua mengesampingkan hal-hal minor seperti semua itu dan menggantikannya dengan hal-hal yang jauh lebih bermanfaat demi kesejahteraan kita semua.

Tahun 2017, warga Indonesia masihlah memperjuangkan “kemerdekaan” kedua bagi Indonesia dalam berbagai aspek. Kreatif maupun konservatif, tua ataupun muda, kita semua masih berkontribusi dalam pembangunan negeri ini. Sejarah telah dicanangkan dan membentuk kita semua menjadi sedemikian rupa. Keras, namun masih belum sekeras intan permata. Masih banyak perjuangan yang harus kita lakukan bersama untuk mencapai Indonesia yang lebih makmur dan memenuhi tujuan bangsa seperti yang sudah kita semua ketahui terdapat pada alinea keempat Pembukaan UUD1945. Saya pribadi sangat setuju dengan motto kabinet aktif sekarang yang sangat menggambarkan apa yang harus kita semua lakukan: Ayo Kerja! Siapa yang bekerja? Jelas kita semua!

Toh, kalau bukan kita yang merawat sang saka Merah Putih, siapa lagi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s