_eragam

(foto: Coucla Refaat)

Setiap kali upacara, tentunya kita ­sudah berpuluh-puluh kali melafalkan dasar negara kita: Pancasila. Begitu pentingnya Pancasila dan Ialah yang menjadi cerminan bangsa, sudah dipastikan burung Garuda dengan tameng perkasanya tidak pernah absen di setiap ruang kelas, minimal ada satu di setiap sekolah. Kaki-kaki Manuk Dadali tersebut kokoh, tegap mencengkram pita besar bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika”, sebuah frase yang telah melegenda usulan Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno, bermakna “Berbeda-beda tetap satu jua”, inilah yang menjadi pemersatu kita semua selama berpuluh-puluh tahun.

Di hari Sumpah Pemuda kemarin, saya menyetel satu stasiun radio yang kebetulan sedang menyiarkan secara langsung di Istana Bogor. Dalam acara itu, berulang kali diresitasikan kalimat “Kita tidak sama, kita kerja sama”. Saya sangat setuju dengan kata-kata tersebut. Tidak perlulah kita menjadi sama dan seragam, karena dengan keberagaman justru kita menjadi kaya akan budaya. Pentinglah kita untuk senantiasa mengingat ini. Perbedaan budaya dan fisik bukanlah penghalang kita untuk mencintai Indonesia dan segenap keindahan yang dimilikinya. Dengan keberagaman, kita juga bisa kok bergotong royong untuk kesejahteraan tanah air yang kita miliki ini. Saya menemukan sebuah artikel bagus yang bisa menjadi refleksi kita semua terhadap yang dinamakan “Bhinneka Tunggal Ika”, yaitu tentang dibukanya buka puasa bersama oleh pemerintah Asmat yang dilakukan bersama-sama dengan seluruh umat beragama di Kota Agats, artikel selengkapnya di sini.

Indonesia tersohor di dunia sebagai negara dengan berjuta kekayaan di sumber daya alamnya, juga budayanya. Tari-tarian tradisional, baju adat, musik daerah, hampir setiap daerah memilikinya dan yang jelas semuanya berbeda. Bahkan batik dengan batik pun bisa mempunyai ciri khas masing-masing tergantung dari mana asalnya. Misal, batik Pekalongan dengan batik Cirebon. Aset inilah yang jelas perlu dikembangkan. Pun mengetahui hal demikian, masih ada juga oknum-oknum yang hendak memisahkan kita. Kabar miring tak henti-hentinya beredar di linimasa sosial media. Kini, sudah sangat krusial untuk memilah mana berita yang benar, ataupun yang bohong atau hoax.

Sangat disayangkan, oknum-oknum yang menulis hoax dan menggoreng masyarakat adalah yang mengatasnamakan media. Sebagai contoh, beberapa bulan lalu, terciduklah salah satu organisasi penyebar hoax yang ternyata cukup mendominasi ranah sosial media kita, Saracen. Mengerikannya, organisasi ini telah hilir mudik di sosial media kita entah sudah berapa bulan bahkan tahun lamanya. Saracen berpotensi untuk mencuci otak masyarakat kita dan kembali lagi ke zaman Belanda, menjadi divide et impera kembali dan menyebabkan perselisihan antar satu dengan lainnya.

Terkadang juga phising atau penipuan laman dengan alamat yang mirip ikut berperan dalam pemberitaan hal bohong. Teknologi editing pun kerap kali dimonopoli untuk kepentingan pribadi. Hati-hati di internet katanya, memang, diperlukan kebijaksanaan dan usaha dari kita semua untuk mendamaikan situasi sekarang. Keberagaman kita sedang terancam, maka kita harus memperbaikinya. Ketika Anda menyentuh layar Anda untuk menyebarkan berita bohong, maka Anda telah mendukung perpecahan di dalam tubuh ibu pertiwi ini. Sederhananya, masa depan Indonesia secara harfiah berada di ujung jari kita semua. Apakah kita akan menyebarkan berita yang baik ataupun tidak, apakah kita akan terpecah belah atau tidak, semua tergantung kita.

Jangan sampai kita mau disusupi oleh oknum asing yang mengaku mengatasnamakan suatu organisasi yang belum kita ketahui, hendaklah kita cerdik dan tidak mudah terhasut. Indonesia kelak menjadi genting bila oknum berbahaya seperti teroris tersebut masuk, mengingat bahwa mereka pada umumnya tersebar secara diam-diam seperti yang telah tertulis di laman berikut ini.

Dari situs onesecond.designly.com kita bisa melihat seberapa banyak informasi yang tersebar lewat internet setiap detiknya. Mulai dari like, unggahan artikel dari Facebook, juga status di blog-blog lain. Begitu mengagumkan nan mengerikannya kemajuan teknologi ini bagaikan pedang bermata dua. Bayangkan bagaimana bila mayoritas dari artikel yang diunggah ke internet tersebut adalah kabar burung belaka. Cerdas dan kritis dalam ber-internet merupakan salah satu kunci kita untuk tetap bersatu.

Kita pun juga mengetahui media mempunyai pengaruh vital dalam pemikiran masyarakat sekarang, maka dari itu portal berita pun harus mempunyai tanggung jawab dalam memperjuangkan keadilan dan kebenaran seperti tertulis dalam Pasal 6 UU Pers No. 4 Tahun 1999. Undang-undang tersebut pun tidak lepas dari poin kebhinnekaan, tercantum dalam ayat keduanya.

Adalah dulu wacana akan kebebasan pers karena pengaruh totaliter dari tangan besi pemerintah dan seringkali digunakan untuk tujuan pribadi dan memihak salah satu tokoh masyarakat. Meskipun sekarang sudah lebih bebas, bukan berarti bisa semaunya media menyiarkan berita yang tidak bisa diuji kebenarannya. Jurnalis mempunyai kode-kode etik seperti yang dikeluarkan oleh Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), di mana kebenaran berita ditekankan sebagai penting.

Kebebasan pers mempunyai pro dan kontranya sendiri, di mana kebebasannya baik sebagai wadah aspirasi masyarakat, namun di sisi lain bisa menimbulkan maraknya hoax di masyarakat sendiri. Tidak bisa dipungkiri, panggung politik dan pers berdekatan layaknya adik dan kakak, maka sesungguhnya mengerikan sekali bila pers sampai terpengaruh dengan politik karena bisa mengancam ikatan kekeluargaan yang telah kita pupuk selama tujuh puluh satu tahun lebih ini.

Marilah kita menjadi masyarakat pintar. Patut kita menggunakan akal sehat dalam memilih dan memilah informasi, bukan sekadar hanya membaca atau mendengar apa yang mau kita dengar. Kebersamaan-lah yang harus kita kedepankan, jangan mau diruntuhkan dengan ketikan-ketikan atau kabar-kabar semata yang tidak diketahui faktanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s