Sebuah Simbiosis

Mohon menon-aktifkan adblock Anda sebelum mengakses laman kami. Terima kasih.

Hayo, apakah Anda segera mematikan ad block Anda setelah melihat pesan tersebut? Tentunya bila Anda sedang mengakses situs kepercayaan dan kesayangan Anda, Anda tidak akan merasa resah, kan? Sebaliknya, Anda akan merelakan para pemasar untuk menjangkau

Iklan. Sebuah kata yang amat sangat tidak asing bagi kita. Sebuah cara bagi pelaku usaha untuk dengan mudahnya menjangkau kita sekalian. Mulai dari papan-papan reklame yang biasa kita lihat di jalanan hingga brosur yang dibagikan di mal. Lalu zaman pun berganti, iklan yang tadinya diteriaki, ditempel pada pepohonan dan tiang listrik, kini telah terpampang setiap hari pada layar sentuh Anda

Layaknya pedang yang mempunyai dua mata, seperti itulah keberagaman tanggapan dari para konsumen terhadap iklan. Mengganggu, namun bila tidak, maka mungkin suatu hari laman tersebut sudah tidak dapat diakses lagi karena masalah biaya. Tempat di mana kita bisa melihat banyak iklan daring adalah sosial media. Dari situ kita bisa mendapat banyak sekali kemudahan. Misal saja, mudahnya kita menjangkau orang-orang yang jauh, berbagi cerita, bahkan mendapat penghasilan tambahan. Namun tahukah Anda, meskipun situs tersebut gratis, bukan berarti mereka akan secara cuma-cuma memberikan semua fitur tersebut. Oleh karena itu, diciptakannyalah iklan daring.

Internet sebagai tempat meraup untung sudah tidak diragukan lagi semenjak pertama kali didirikannya. Peribahasa mengatakan, di mana ada gula, di situ ada semut. Begitu melihat potensi bisnis, para mitra usaha akan dengan sekejap berdatangan. Sebut sajalah dari raksasa internet yang awet dan telah mengibarkan sayapnya semenjak bertahun-tahun yang lalu, Google. Tidak terbatas pada situs pencarian halaman atau search engine, Google juga telah mengakuisisi berbagai macam sudut di internet. Sebut saja Youtube, situs yang bahkan Bapak Presiden kita pun pakai untuk berinteraksi dengan rakyatnya. Saingannya pun berlaku demikian. Facebook, yang telah mengambil komando dari beberapa perusahaan sosial media lainnya, seperti WhatsApp dan juga Instagram.

Per 2016, tercatat pengguna internet di Indonesia mencapai angka 132 juta, bahkan merupakan nomor enam pengguna yang paling banyak di dunia. Dengan jumlah konsumen yang sangat banyak, tidak mungkin para usahawan tidak ikut arus di dalam sapi perah yang sangat menggiurkan ini. Iklan pun mulai berdatangan.

Bila ditelusuri dari sejarahnya, awalnya iklan daring dibagikan lewat pesan spam, yang bila kita lihat sekarang kemungkinannya untuk menjangkau para konsumen amat sangat kecil setelah adanya filter di laman e-mail. Berkembang ke tahun 1994, di mana iklan banner atau yang seperti kita lihat di koran: iklan baris. Di bawah ini adalah satu satu iklan banner daring tertua yang dibuat oleh perusahaan AT&T.

iklan banner pertama di dunia.jpg

Setelah itu mulailah iklan pada situs pencarian di Google, yang mana lebih efektif karena iklan yang muncul disesuaikan dengan apa yang sedang dicari oleh konsumen. Hal ini jugalah yang mendasari bagaimana iklan sekarang dibuat untuk lebih relevan dengan calon konsumen. Berlanjut ke iklan melalui sosial media, dari iklan yang biasa berada di kiri kanan page Facebook, hingga endorse oleh para influencer yang mempunyai demografis cukup ramai di Instagram.

Iklan online di Indonesia, yang juga sudah tersistem oleh para majikan perusahaan internet asing, pun tidak kalah banyak karena perusahaan raksasa tersebut biasanya akan patguna dalam target iklan mereka. Sebut saja bisnis online seperti Tokopedia, yang di iklan banner-nya cenderung melihat preferensi pembelian barang kita. Di Indonesia kini, sudah jarang kita temui iklan untuk perusahaan asing. Hal itu disebabkan karena dari IP kita, bisa terlihat bahwa kita berdomisili di Indonesia.

Wah, kalau begitu data personal saya terekspos dong?

Dalam sebuah situs internet, memang tidak ada produk yang perlu kita bayar untuk akses. Namun sebagai gantinya, kitalah yang menjadi “produk” tersebut bagi pemilik jejaring kepada pemasar. Dengan begitu, pengelola akan mendapat keuntungan finansial dan tetap bisa mengelola situs yang kita sayangi tanpa membuat kita membayar sepeser pun. Simbiosis mutualisme, bisa saya katakan demikian. Maka, apakah Anda sudah menentukan untuk mematikan atau tetap membiarkan adblock Anda menyala?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s